the quiet reflection of me.
<

monologue.

– Written by Nicole. Archive; 2006. All rights reserved.
Any similarities in either storyline or casts are merely coincidences.
No copying of material content is allowed without direct consent from the author.

+++

Aku jatuh. Dan mati.

Dentuman
jantungku terdengar jelas di telinga, merayapi saraf-sarafku dan
menyadarkanku kembali ke kenyataan. Di sinilah tempatku, aku menyadari
dengan getir. Tidak dimana-mana. Rasa sakit yang begitu kukenal mulai
memenuhi hatiku. Aku mulai bosan olehnya. Mengapa tidak ia datangi
orang lain? Mengapa harus aku? Tidakkah ada orang lain yang lebih
pantas menempati tempat ini? Mengapa harus aku? Aku bertanya-tanya
dengan egois, tapi tak pernah kutemukan jawabannya. Tidak selama 19
tahun ini.

Kuberlari, meninggalkan segalanya di belakang. Tak
kutolehkan kepalaku. Aku berlari…berlari…dan terus berlari.
Kudengar sayup-sayup suara yang berteriak untuk menghentikanku. Tapi
aku terus berlari. Dengan kejamnya tak kupedulikan suara-suara itu,
sebagaimana aku yang tidak pernah dipedulikan. Aku tentu boleh bukan,
melakukan hal yang sama? Entahlah, pikiranku buntu. Tidak dapat
berpikir. Kakiku nyeri, dadaku sesak, jantungku ingin pecah. Tuhan, aku
ingin berhenti.

Tapi benarkah aku ingin berhenti? Aku memang
lelah, entah sampai kapan aku dapat bertahan. Tapi jika aku tidak
berlari, aku akan mati. Aku akan dilukai lagi, dikhianati dan
dilupakan. Maka aku berlari. Lagipula, semua orang berlari. Aku tidak
sendirian ketika berlari. Aku menyukai pikiranku itu. Maka aku pun
tersenyum kepada orang yang berlari di sebelahku.

Dia adalah
seorang gadis gemuk yang sedang mengupayakan segala usahanya untuk
berlari. Ia sepertiku, tidak mau berhenti. Aku dapat melihatnya dari
tekad yang tergambar di wajahnya. Kehidupannya yang sengsara yang telah
mengguratkan tekad baja itu. Ibu yang meninggalkan dirinya, ayah angkat
yang melecehkan tubuhnya, paman yang menjual dirinya, dan "teman-teman"
yang membekukan hatinya. Betapa hebat penderitaannya, sehingga aku
harus melemparkan lagi sebuah senyuman mendukung yang berkata, "Ayo
berlari bersama."

Suara-suara dalam kepalaku kembali
mengangguku, bahkan mengalahkan detak, ah bukan, hentakan jantungku
yang kekurangan oksigen. Hey, benarkah yang kudengar? Benarkah kudengar
tangisan di sela suara-suara itu? Kugelengkan kepalaku sehingga rambut
panjangku terkibas. Tidak, tidak mungkin. Tidak ada orang yang menangis
untukku. Aku pun tertawa. Tawa menyedihkan.

Sebuah tawa menyusul
tawaku. Dengan terkejut kudapati seulas tawa dari pria tampan di
sebelah kananku. Aku tidak suka mendengar tawanya. Tawa itu…sarat
akan kegagalan. Aku tidak mengerti, tapi tawa itu menyebalkan. Ia
tertawa, menertawakan dirinya. Dirinya yang homoseksual, pelacur yang
jatuh cinta padanya, ibu yang mewariskan hutang. Nasib jelas telah
mempermainkannya. Ia tidak diberi kesempatan untuk hidup normal. Ia
malah harus menghancurkan hati seorang wanita terhormat. Pelacur itu
terhormat. Haha. Seakan belum cukup, ia harus terbebani oleh hutang
ratusan juta dolar. Nasib sungguh-sungguh menikmati apa yang telah ia
lakukan. Bukankah begitu?

"Clarisse!!"

Tuhan, itukah
namaku yang kudengar? Benarkah? Ada orang yang memanggilku? Haruskah
aku berhenti? Haruskah aku mengambil resiko disakiti lagi? Hatiku telah
hancur. Entah telah berapa kali kupungut sisa-sisa harga diri dan
cintaku dan kucoba untuk menatanya kembali. Hanya untuk kembali
dihancurkan. Tuhan, kumohon beritahulah aku. Patutkah panggilan ini
kujawab? Katakanlah iya, dan aku akan menuruti-Mu. Oh demi Tuhan, aku perlu jawaban.

"Clarisse!" Terdengar lagi.

"Clarisse…" Semakin jauh.

"Clarisse…" Semakin tidak terdengar.

Panggilan
itu menggema, menuntut jawaban. Aku pun sedang menunggu jawaban. Namun
jawaban itu senantiasa tidak datang. Aku menunggu, sembari mengayunkan
kakiku selangkah demi selangkah, terus berlari. Aku sudah tidak tahan.
Kakiku mau patah. Aku pasti sebentar lagi akan mati.

Kulihat
sebuah danau di depanku. Aku akan jatuh! Aku akan tenggelam! Aku akan
mati! Mengapa tidak ada yang menolongku? Aku menangis dalam hati. Aku
tidak mau mati sendirian. Aku mau merasakan kebahagiaan. Salahkah itu?
Kupandang gadis di sebelah kiriku dan pria di sebelah kananku. Mereka
masih berlari. Dan tiba-tiba, mereka berhenti.

Untuk pertama
kalinya sejak aku dilahirkan, aku meneteskan air mata. Telah kuhabiskan
tahun-tahun hidupku berlari bersama mereka berdua. Berlari bersama.
Jatuh bersama. Bercerita bersama dalam kesunyian. Dan sekarang mereka
berhenti. Aku sendirian lagi.

Aku semakin dekat dengan danau.
Aku tidak bisa memperlambat lariku! Kutengok dua temanku itu. Mereka
menangis! Meneriakkan namaku tanpa suara. Ingin aku berhenti. Hei
Tuhan, lihatkah Engkau? Ada orang ingin aku berhenti! Tapi mengapa aku
tidak dapat berhenti?

Aku tidak perlu menunggu jawaban untuk
yang ini. Aku tahu mengapa aku tidak dapat berhenti berlari. Bukan dia
yang memanggilku. Dia. Dia yang selalu tersenyum padaku. Dia yang
merupakan satu-satunya orang yang baik kepadaku. Hatiku sudah terlanjur
mati. Dia yang membunuh hatiku. Dan jika bukan dia yang menghidupkan
kembali, hatiku akan tetap mati.

Aku menatap ngeri danau yang
sudah di depan mata. Air yang gelap siap menelanku. Tidak beriak dan
tenang. Seakan memang sudah menungguku kedatanganku dari dulu. Di
tengah kengerian dan ketakutan tak terperikan itu, kudengar suaranya.
Suara dia.

"CLARISSE!!"

Aku berhenti. Aku menoleh. Aku
melihat dirinya. Aku mendengar dirinya. Panggilannya yang tak kenal
putus asa. Ia berdiri disana, tersenyum kepadaku. Senyum yang hanya
ditujukan kepadaku. Kurasakan kehangatan mencairkan kebekuan hatiku,
dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, kurasakan cinta. Ada orang
mencintaiku. Hatiku sudah tidak mati lagi. Sudah tidak beku lagi.

Tetapi tetap hancur.

Aku
tidak pernah tersenyum kepada orang, bukankah begitu Tuhan? Karena itu,
ijinkanlah kulakukan itu sekali ini. Aku melemparkan senyum tipis ke
arah dia. Senyum tulus seorang sahabat. Senyum tulus seorang yang
dicintai. Senyum terima kasih yang sederhana.

Dia menatapku penuh harap. Tapi aku melanjutkan lariku. Lima meter…empat meter…tiga meter…dua meter…

Aku jatuh. Dan mati.

Jadi inilah rasanya bebas. Inilah ternyata akhir dari pelarianku.

– finale.

March 9th, 2007 at 11:49 am