– Written by Nicole. Archive; 2006. All rights reserved.
Any similarities in either storyline or casts are merely coincidences.
No copying of material content is allowed without direct consent from the author.
+++
chapter one.
Aku
melihat dirinya terbaring lemas di depanku. Wajah sombongnya kini
menangis meminta belas kasihanku, orang yang selama bertahun-tahun
telah menjadi bulan-bulanan ejekannya dan juga perbuatan-perbuatan
jahat yang telah dilakukannya.
Kini kulihat IA menangis. Padahal
biasanya AKU yang menangis. Andaikata aku tak berada di sini, menjadi
satu-satunya orang yang dapat membantunya bertahan hidup, ia tak akan
merendahkan dirinya seperti anak anjing yang kelaparan ini kepadaku.
Akankah
kuberikan perasaan ibaku kepadanya? Dia yang selama ini selalu tertawa
dalam tangisku, dia yang selalu menjebakku ke dalam perbuatan-perbuatan
jahanam yang ia lakukan dan dengan segala “kebaikan”nya yang mendalam,
dengan menjadikan diriku satu-satunya makhluk di sekolah yang tidak
memiliki seorang teman.
Aku selalu mencoba untuk bersabar, tak
kugubris segala hinaannya, tak kupedulikan kata-kata kasarnya kepadaku,
selalu kucoba untuk mencari teman, tetapi ia yang bagaikan ratu itu
selalu punya berbagai cara agar tak ada yang mau berteman denganku. Aku
selalu berusaha membela diri, dari perbuatan-perbuatan yang tak pernah
sekalipun terlintas di pikiranku, apalagi untuk melaksanakannya. Tetapi
ia selalu membuat segala bukti tertuju kepadaku, semua orang tak
membelaku, termasuk keluargaku sendiri. Tak ada yang percaya lagi
kepadaku.
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Ia
menjerit-jerit meneriakkan namaku. Ia menangis meminta maaf. Ia
menangis memohon ampun. Ia menangis meminta tolong. Sedetik kemudian
aku menemukan sesuatu di matanya. Sinar matanya sama dengan diriku, di
saat aku membutuhkan pertolongan dan rasa percaya dari orang lain. Mata
di mana diriku begitu sendirian…
Tanganku terulur dengan
sendirinya, hendak menggapai tangannya yang berlumuran darah dari luka
tikaman di perutnya itu, tetapi tiba-tiba terlintas iblis di benakku. Aku bisa membiarkan dirinya mati.
Aku bisa terbebas dari segala fitnah dan kecamannya. Tak ada orang di
sini. Tak ada yang akan mengetahui aku telah membiarkan dirinya mati.
Seperti
ada tamparan pedas yang mengenai pipiku, tiba-tiba aku tersadar. Apa
yang telah aku pikirkan? Pikiran kejam yang kotor telah terlintas di
benakku sedetik yang lalu. Aku hampir menjadikan diriku sama
sepertinya, kejam dan tak memiliki perasaan.
Aku melihat matanya
lagi, cahaya matanya telah meredup, tubuhnya benar-benar membutuhkan
pertolongan. Aku merogoh kantung celanaku, mengambil telepon selular
dan menghubungi sebuah rumah sakit. Begitu memutuskan hubungan aku
segera meraih tangannya.
Tak kusangka tangannya begitu dingin.
Begitu kuraih aku langsung tahu bahwa dirinya sakit. Tidak hanya
tubuhnya, hatinya pun juga. Seperti tanaman yang kekurangan air dan
tidak diberi pupuk, ia kekurangan kasih sayang. Apa karena rasa sakit
itu ia menjadi dirinya yang seperti ini? Apa karena kekurangan kasih
sayang?
chapter two.
Kugenggam tangannya
seerat mungkin, menyalurkan sedikit saja kehangatan yang kumiliki. Aku
pernah merasakan saat-saat seperti yang sedang ia alami sekarang ini.
Saat-saat dimana hatiku melolong penuh kerinduan akan sebuah tangan
yang terulur. Saat-saat ketika dengan uraian air mata kudapati tanganku
hanya dapat menggapai udara hampa. Takkan kubiarkan orang lain
merasakan perasaan itu. Karena itulah kuremas tangannya dengan hangat,
berharap setitik kasih sayang dariku dapat menumbuhkan harapan dalam
hatinya.
Kupandang matanya dan tersenyum halus. Bagaimanapun,
dia adalah seorang manusia. Aku tidak dapat menelantarkannya begitu
saja, karena tidak ada seorang manusia pun yang mau ditelantarkan.
Terpana, kulihat wajahnya yang pucat pasi terangkat hampir-hampir tak
bertenaga menghadap wajahku, dan bibirnya yang bengkak membentuk sebuah
senyum tipis untukku.
Tak pernah kubayangkan dalam hidupku ia
akan pernah tersenyum padaku seperti itu. Wajahnya yang selalu arogan,
senyumnya yang menginjak harga diriku, kini semuanya berubah menjadi
wajah yang memohon pertolongan dan senyum penuh terima kasih.
Ya,
ia tersenyum padaku. Dan senyumnya merupakan senyum terima kasih
terindah yang pernah kudapat. Belum lagi cukup yang kuterima, kudengar
suaranya yang mendesah pelan penuh kesakitan. Dapat kulihat usaha
kerasnya untuk mengucapkan beberapa kata yang kutahu hampir tidak
pernah ia ucapkan sepanjang hidupnya yang bergelimangan segalanya.
Ucapnya, “Terima kasih…..”
Luluh
sudah semua perasaan benci yang sempat hinggap di hatiku. Aku tahu ia
menyadari kemungkinan aku menelantarkannya. Dan aku yakin ia mengetahui
pikiranku yang sempat berkecamuk. Ia berterima kasih bukan karena aku
menolongnya. Ia berterima kasih karena aku memutuskan untuk menolongnya.
Dan aku pun berterima kasih akan keputusanku itu.
Takkan
kubiarkan ia mati, sebagaimana takkan kubiarkan diriku sendiri menjadi
iblis seperti dirinya yang dahulu. Kusentuh pipinya dengan lembut dan
kubalas kata-katanya dengan kata-kata yang amat sangat ingin kudengar
dari dulu. Kata-kata yang kurindukan ketika aku terluka…
“Tenanglah. Kamu akan selamat. Aku akan menyelamatkanmu.”
Ketika
kulihat sebutir airmata menetes dari pelupuk matanya, aku pun tahu
bahwa keputusanku adalah benar adanya. Bagaimanapun juga, semua orang
berhak untuk kesempatan kedua.
– finale.