Kamu semakin menua.
Enam tahun kita bersama.
Mengalami banyak hal.
Melewati berbagai saat.
Kamu tumbuh.
Aku tumbuh.
Kamu berkembang.
Aku berubah.
Aku mendukungmu selalu.
Di setiap langkahmu.
Aku mencintaimu.
Tapi kamu tak pernah tahu.
Itu bukan salahmu.
Kamu tak mungkin tahu.
Aku tak menyesali
Setitik pun perasaan ini.
Sekarang kau telah berumur dua puluh delapan tahun.
Kita kembali terpaut sembilan tahun.
Yang ada dalam pikiranku
Tak lain hanyalah kebahagiaanmu.
Talentamu berkembang.
Karirmu merebak.
Kamu memikirkan tujuan
Tapi hanya sendirian.
Aku tak ingin kamu bersedih
Oleh karena kegagalan tak berarti.
Kamu bisa melakukannya
Aku selalu tahu kamu bisa.
Kamu berharga
Janganlah lupa.
Untukmu disini ada seorang wanita
Mendukung dengan penuh cinta.
Tak pernah kubayangkan
Betapa lama perasaan ini akan bertahan.
Kamu mengajarkan banyak hal
Yang bahkan kau tak dapat membayangkan.
Kamu terlalu baik
Untuk merasakan pedih.
Ingin sekali diri ini
Menemanimu di sisi.
Orang takkan mengerti
Betapa bagiku ini penting.
Tapi aku belajar mencintai
Ketika aku menyadari…
…betapa kita adalah sebuah tak-mungkin.
Aku akan mencintai orang lain
Aku akan mencoba.
Kuharap kamu juga mencintai
Dan berbahagia.
Aku hanya ingin kamu bahagia
Tak ada lagi yang kuinginkan.
Meski kita tak saling mengenal
Ku sungguh berharap suatu saat kita akan.
Aku akan selalu mendukungmu,
Yakin dengan kemampuanmu,
Mengharapkan kebahagiaanmu,
Walau kau tak pernah kan tahu.
Mengoreksi kesalahanmu,
Menopangmu di kala jatuh.
Aku akan mencintaimu
Seiring dan seijin waktu.
Sekarang aku dapat tersenyum dan melepaskanmu.
Meski aku tetap memegang harapku.