Hmm… td gue dapet pengalaman baru. Gue td buka puasa bareng Komunitas Sant’Egidio dan seratus anak-anak Muslim yang lucu-lucu… well, new experience. It’s something I’ve always wanted. Always. Something I’ve always dreamt of doing. Something I’ve lately been treating as a dream, as a target in life I have to achieve. Something I’ve defined as a sign that you have lived your life well. I’ve always dreamt of doing something before I die, no matter how small it is, I have to make at least one soul live better just because I lived. Banyak orang akan langsung berpikir ke orang tua. Hmm, tanpa bermaksud kurang ajar atau apa pun, gue pun sangat determined untuk membahagiakan orang tua gue, tapi gue lantas berpikir, bonyok gue, they have each other. I mean, they have so much in their lives. Emang bener, sebagai anak, sudah menjadi tugas untuk membalas budi orang tua, but hey, they’ve lived their life to the fullest. Mereka sudah melakukan apa yang mereka inginkan and they did well. Mereka menyekolahkan anak mereka, mencapai keamanan finansial yang cukup, dan bisa keluar negeri sekali-kali. Atas dasar pemikiran ini, gue berpikir, sekali lagi, tanpa bermaksud mengecilkan maksud gue untuk berbakti, gue berpikir, ada loh orang yang BENAR-BENAR mungkin tidak punya kesempatan untuk itu semua, Bahkan kesempatan untuk hidup. Kesempatan untuk sekolah, menikmati kesehatan, mendapat pekerjaan yang layak yang nantinya akan memberi kebebasan finansial dan nasib yang cukup baik seperti yang sudah dimiliki orang tua gue. Lantas, kenapa semua orang di sekeliling gue hanya berpikir untuk membahagiakan orang tuanya?
Bukan gue berkata itu salah. SAMA SEKALI NGGAK! Gue sangat menghargai niat baik itu semua. Tapi gue agak gak bisa mengerti jalan pikir orang yang berkata, “Asal gue bisa balas budi orang tua aja. Yang laen mah bukan kewajiban gue.” Gue mencoba, sumpah gue udah sangat mencoba, untuk mengerti, tapi gue gak bisa. Kenapa?
Gini, gue kenal 1 anak manja. Yang sangat borju dalam berpakaian dan semuanya deh. Dan dia adalah orang yang memandang rendah orang-orang yang tidak berpenampilan atau bergaya seperti dia. Sekarang gue mikir, tuh anak TIDAK ADA BEDANYA dengan anak miskin yang lahir di gubuk kecil belakang warung deket kolong jembatan. Sama-sama bayi, sama-sama telanjang pas keluar, sama-sama lahir dari rahim ibunya, sama-sama kalo dicekik langsung mati tanpa bisa melawan. Yang membedakan hanyalah, tuh anak beruntung bisa lahir di keluarga yang berada. Uang itu bukan punya dia, lantas apa dasar dia berpikir bahwa dia lebih tinggi dari orang? Hey, lo cuma beruntung! Lo gak hebat dan lo gak sama sekali lebih tinggi dari orang lain!
Well, gue juga mengerti, orang itu berbeda-beda. Cara pikir orang berbeda-beda, gue appreciate itu, dan gue juga gak akan terlalu menuntut jawaban karena itu gak etis. Bukan salah orang untuk memikirkan kebahagiaan orang tuanya. Gue cuma kepingin banget aja, orang-orang lebih sadar bahwa 1 minggu waktu lo, selain dipakai kerja/kuliah, kalian bisa kok menggunakan setengah hari Sabtu atau Minggu kalian untuk berbuat something useful, bukan cuma ke mall aja. Itu gak membuat kalian miskin, gak membuat kalian durhaka, atau membuat kalian kelaparan kan? Mungkin karena gue kepengen banget itu terjadi, jadi gue agak-agak keras jadinya.
Tadi ada 1 anak nanya gue, jadi tuh anak kakinya ketusuk paku gara-gara maen di rel kereta. Kenapa dia ketusuk? Karena dia gak mampu beli sendal. Jadi dia menyeka darahnya dan cuma pake hansaplast. Dia anak yang sangat pintar, sangat cerdas, hafal 10 negara ASEAN, 5 benua di dunia, bahkan tahu bulan apa Golkar dan PDI-P menang Pemilu. Anak sepintar itu lantas bertanya ke gue, “Kak, kalau kontrol ke rumah sakit negeri gitu, bayar gak ya?” Trus gue tanya, “Kamu mau cek apa?” Dia bilang, “Cek kaki. Tapi kalo gratis aja kak. Kalo bayar gak bisa. Sendal aja gak ada.”
Aduduh.
Mungkin gue berpikir terlalu panjang, terlalu jauh dan terlalu gak nyambung. Tapi di dunia ini, BEGITU BANYAK orang yang menyumbang atau memberikan sedekah bagi orang miskin. Bukannya itu tidak baik, sungguh itu perbuatan mulia, tapi gue pikir, itu semua hanya untuk memuaskan EGO SOSIAL mereka masing-masing. Semua orang punya ego sosial dimana mereka merasa harus memberikan sedikit pada sesama untuk memuaskan ego mereka itu. Tapi yang mereka tidak sadari, mereka jadi memperlakukan orang miskin sebagai objek. Akhirnya, hubungan yang terjadi 1 arah. Yang 1 memberi, yang 1 hanya menerima, dengan kata lain objek penderita. Tapi kalau kita mau terlibat untuk mengenal mereka lebih jauh, mencoba mengerti bagaimana orang miskin memiliki perasaan yang sama dan keinginan yang sama seperti kita, mencoba menerima bahwa mereka pun manusia yang mempunyai mimpi tentang hidup mereka, just like us, maka hubungan yang terjadi akan 2 arah. Antara 2 subjek. BUKAN OBJEK.
So well, people, you can start now. It’s never too late to start doing something. Really. I used to tell myself that it was too late to start anything, but boy, it is really never too late. You can always start doing something and start achieving your dreams. Don’t make money as your goal or dreams, don’t treat people like craps, because that makes you a crap. That makes you a low person who doesn’t even dare to dream of something better for his/her own life. Dream of something bigger, something better, and run for it. You may fall, but you have to keep running. Because when you quit, you don’t have anything left. Once you have no hope, you have pretty much nothing left.
And, you’re not nothing. You’re not ordinary. What you do, it counts. However small, it does count. Don’t ever say you’re nothing and what you do won’t make a difference. Everyone is something because at one point and another, we do care about other people or at least ourselves. That, already makes us something. But what makes people extraordinary is that when ordinary people gather together and do ordinary things together. They become extraordinary when the ordinary things they do together change people’ lives, when the ordinary things they do makes the world a better place, even just a tiny bit. THAT is what makes ordinary people a bit extraordinary. So it’s really not how much money you have, how intelligent you are, how often you go to church, how many awards you’ve achieved, it’s really about what you do and whether it can affect someone’s life. Even if it’s your own life.