I almost couldn’t find the words to even start defining and expressing what I experienced tonight. Tonight, I felt like I was reborn. I had a hectic day, a day full of sweats and tiresome. But it felt so comfortable.
Hari ini gue ikut pelayanan jalanan komunitas Sant’Egidio. Pertama kali. Gue sudah expect bahwa kita akan turun ke jalan dan membagikan makanan tapi gue gak expect bahwa ada persahabatan yang cukup dalam di antara individu-individu yang berasal dari dua dunia yang berbeda ini. Kita hidup berdampingan dengan orang-orang ini. Setiap hari, kita menyetir mobil kita melewati mereka, namun kita tidak pernah menoleh. Mereka pun tidak pernah memandang kita, mungkin karena masing-masing pihak memang sudah merasa bahwa pihak yang satunya lagi takkan dapat berbaur dengan mereka. Hari ini, gue dibuktikan dengan mata kepala gue sendiri, bahwa apa yang gue percayai ternyata memang ada. Apa yang gue yakini dapat kita lakukan sebagai manusia ternyata memang sudah dilakukan dan gue tidak bermimpi terlalu jauh.
Ketika kita berjalan melewati jalan-jalan raya dan berblok-blok perumahan, rasa lelah juga sudah tidak terasa. Ketika gue bersalaman dengan mereka, ada rasa ingin mengenal seperti gue pertama kali mengenal teman baru yang menarik. Ada rasa kembali ke rumah. Hari ini pertama kalinya gue turun ke bawah jembatan. Literally. Benar-benar tempat yang kita sering sebut sebagai kolong jembatan. Tempat yang tidak mempunyai penerangan sama sekali sehingga kita bahkan tidak bisa melihat wajah lawan bicara kita. Seadanya. Bahkan lebih dari itu. Hampir tidak ada apa-apa. Tapi disitu saudara kita tinggal. Saat itu, bagi gue, pada saat yang bersamaan, hidup terasa tidak berarti namun juga sangat berarti. Tidak berarti karena tiba-tiba saja gue teringat dengan ‘teman-teman’ gue yang di ‘atas’. Teman-teman dari ‘dunia’ gue. Teman-teman yang kaya, beruang, mampu menikmati segala kelimpahan yang mereka punya. Dan gue merasa bahwa hidup mereka sungguh tidak berarti, mereka yang mengejar kepentingan mereka saja dan bersenang-senang tiap saat tanpa ada beban pikiran. Gue gak bilang mereka salah, tapi hidup seperti itu sungguh tidak berarti. Di saat yang sama, ketika gue melihat Pandu, salah satu balita yang sedang tertidur di rongsokan sofa kempes dengan pulasnya, gue melihat adanya sesuatu yang bisa diperjuangkan disana. Sesuatu yang jauh lebih berharga daripada mobil Alphard atau tiket masuk bioskop. Sesuatu yang lebih patut dijaga daripada kartu kredit atau tiket liburan ke luar negeri. Aneh, tapi gue benar-benar merasa, pada saat itu, bahwa hidup bisa menjadi berarti atau tidak sama sekali, tergantung bagaimana kita melihatnya dan bagaimana kita dapat membuka diri kita menjadi individu yang lebih rendah hati dan penyayang.
Komunitas ini adalah komunitas mimpi. Kita melayani bukan karena kita ingin melakukan kegiatan sosial. Begitu banyak penyaluran yang dapat dilakukan jika kita hanya ingin memuaskan ego sosial kita. Kita dapat menyumbang uang bermiliar-miliar ke panti-panti kapan pun kita merasa bahwa kita harus sedikit berbuat sosial. Atau kita dapat memberi uang lima ratus rupiah kepada pengamen di jalan. Tidak, itu tidak salah sama sekali. But, charity is the coat you wear twice a year. Perlu kepedulian yang lebih dan keberanian untuk berani bermimpi lebih tinggi untuk dapat mewujudkan apa yang ingin kita lihat di dunia. Perdamaian. Semua orang menginginkan perdamaian. Semua orang ingin merasakan damai. Namun itu bukan perjuangan mudah. Kita perlu ikut terjun dalam mewujudkannya. Di sinilah komunitas ini bergerak. Komunitas ini bukan melakukan kegiatan sosial. Komunitas ini berjuang demi perdamaian. Just a little bit peace in the world. Dengan cara mengatasi perbedaan yang ada. Perbedaan ekonomi, warna kulit, agama, suku bangsa, kewarganegaraan, kemampuan fisik, akademis, jenis kelamin dan bahkan perbedaan usia. Dan bukan karena gue ikut komunitas ini, gue lantas mengklaim bahwa orang-orang komunitas ini adalah orang yang mulia. Tidak, kita semua manusia. Mudah tergoda setan, sama-sama makan nasi, sama-sama harus boker kalau sakit perut. Tidak ada yang berbeda, semua manusia sama. Karena itu, kita tidak boleh berpikir bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita adalah seseorang. Setiap orang adalah seseorang, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala keunikan dan perbedaan yang ada di antara kita. Kalau saja orang-orang yang berpikir mereka lebih baik daripada orang lain dapat lebih rendah hati dan tidak sombong, gue yakin perdamaian bisa terwujud.
So hari ini, gue mendapat pembelajaran yang amat berharga. Gue menemukan rumah gue. Gue menemukan tempat gue di dunia, dan gue bersyukur gue dituntun ke tempat ini. Gue menemukan arti perdamaian. Gue menemukan arti perjuangan. Gue menemukan arti bermimpi. Gue menemukan arti kekeluargaan. Gue menemukan arti dunia yang satu. Dan gue menyadari satu hal bahwa memiliki kekayaan ataupun wajah rupawan bukanlah anugerah. Itu hanya keberuntungan karena mereka terlahir dalam keluarga yang cukup berada. Jikalau ketika bayi, mereka diletakkan di kolong jembatan, tidak ada bedanya bukan? Apa yang kita miliki bukan benar-benar milik kita, jadi jangan terlalu berbangga hati karenanya karena kita tidak lebih baik dari yang tidak punya. Semoga orang-orang yang masih suka menyakiti orang lain demi kepuasan diri dan kesenangan mereka atau hanya demi bahan tertawaan dan gengsi belaka, dapat sadar bahwa hidup mereka sungguh tidak berarti. Sungguh tidak berarti.
Dan sungguh tidak lebih baik.